POKOK PERMASALAHAN
A.
Apa pengertian Studi Islam
B.
Bagaimana Ruang Lingkup Studi Islam
C.
Bagaimana Pendekatan dan
Metodologi Studi Islam
II. PEMBAHASAN
1. Apa Pengertian Studi Islam
Secara
Etimologi (bahasa) Studi berasal dari
bahasa Inggris yaitu Study, yang berarti mempelajari atau mengkaji.
Sedangkan
Islam berasal dari bahasa Arab yaitu kata salima dan aslama.Salima mengandung
arti selamat,tunduk dan berserah. Sedang
aslama juga mengandung arti kepatuhan, ketundukan dan berserah. Adapun
pengertian Islam secara Terminologi (Istilah) sebagaimana yang dirumuskan para
ahli ulama dan cendekiawan bersifat sangat beragam tergantung dari sudut
pandang yang digunakan. Salah satu rumusan definisi Islam adalah Wahyu Allah
yang disampaikan kepada Nabi Muhammad Saw. 1 (1)
Istilah
Studi Islam dalam bahasa Inggris adalah Islamic
Studies, dan dalam bahasa Arab adalah Dirosat al-Islamiyah. Ditijnau dari
sisi pengertian, Studi Islam secara sederhana dimaknai sebagai “kajian Islam”.
Pengertian Studi Islam sebagai kajian Islam sesungguhnya memiliki cakupan makna
dan pengertian yang luas. Hal ini wajar adanya sebab sebuah istilah akan
memiliki makna tergantung kepada mereka yang menafsirkannya. Karena penafsiran
memiliki latar belakang yang berbeda satu sama lainnya, baik latar belakang
studi, bidang keilmuan, pengalaman maupun berbagai perbedaan lainnya, maka
rumusan dan pemaknaan yang dihasilkanpun juga akan berbeda.
Selain
itu kata Studi Islam itu sendiri gabungan dari dua kata, yaitu kata studi dan
kata Islam. Kata studi memiliki berbagai pengertian. Rumusan Lester Crow dan
Alice Crow menyebutkan bahwa studi adalah kegiatan yang secara sengaja
diusahakan dengan maksud untuk memperoleh keterangan, mencapai pemahaman yang
lebih besar atau meningkatkan suatu ketrampian.
Studi
keislaman dikalangan ummat Islam sendiri tentunya sangat berbeda tujuan dan motivasinya
dengan yang dilakukan oleh orang-orang diluar kalangan ummat Islam. Dikalangan
ummat Islam, studi Islam bertujuan untuk memahami dan mendalami serta membahas
ajaran-ajaran Islam agar mereka dapat melaksanakan dan mengamalkan Islam dengan
benar. Sedangkan di luar kalangan ummat Islam, studi keislaman bertujuan untuk
mempelajari seluk beluk agama dan praktik-praktik agama yang berlaku dikalangan
ummat Islam yang semata-mata sebagai ilmu pengetahuan. Namun sebagimana halnya
dengan ilmu-ilmu pengetahuan tentang seluk beluk agama dan praktek-praktek
keagamaan Islam tersebut bisa digunakan
atau dimanfaatkan untuk tujuan-tujuan tertentu, baik bersifat positif
maupun negatif.
1.(1)
Ngainun Naim, Pengantar Studi Islam,
Yogayakarta:Teras,2009,hlm 1-3
2. Ruang Lingkup Studi Islam
Ada 3 ranah studi Islam
yakni;
Ajaran; Islam sebagai ajaran (wahyu)
bersifat normatif secara tekstual yang mana kebenarannya mutlak, absolut tidak
dapat diganggu gugat.Qur’an merupakan sumber ajaran yang pertama, ada beberapa
pendapat mengenai pengertian Al-Quran;
a. Kata benda (mashdar)dari kata kerja (fi’il)yang berarti membaca/bacaan. Al-Qur’an
dari kata alqarain, jamak dari qarinah dari kata qarana yang berarti menggabungkan.Pendapat
lain menyatakan kata al-quran dari kata al-qar’u yang berarti himpunan.2
b. Al-Qur’an merupakan nama diri yang diberikan oleh Allah kepada
kitab suci yang diturunkan kepada Muhammad Saw sebagaimana dengan penamaan
kitab taurat, zabur dan injil.3
c. Al-Qur’an adalah kalam Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi dan
Rasul terakhir melalui malaikat Jibril yang tertulis dalam mushaf dan sampai
kepada kita dengan jalan mutawatir, membacanya adalah ibadahyang diawali dengan
suratv Al-fatihah dan diakhiri surat An-Nas.4
Kerangka ajaran islam digambarkan sbb;
2. Subhi-as-Salih, Mabahithfi ‘Ulum
al-Qur’an, Beirut: Dar al-Ilm li al-Malayin,1997, hlm.18-19 dan dalam Tim Penyusun MKD IAIN
Sunan Ampel Surabaya, Studi Al-Qur’an, Surabaya: IAIN Sunan Ampel Press,2011,
hlm.2
3. As-Suyuti, al-Itqan Ulum al-Qur’an,
Beirut-Libanon:Dar al-Kutub Al-Ilmiyah, 2004, hlm.52
4. As-Sabuni dalam dalam Tim Penyusun
MKD IAIN Sunan Ampel Surabaya, Studi Al-Qur’an, Surabaya: IAIN Sunan Ampel
Press,2011, hlm.3
Penafsiran: mempelajari Islam yang
bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah secara kontekstual dengan menggunakan
berbagai pendekatan yang mana kebenarannya tidak mutlak,namun bersifat relatif
dan temporel karena merupakan penafsiran /kajian yang datang dari manusia. Ada
beberapa Sistematika Penafsiran
Al-Qur’an;
1. Sistematika Sederhana (al-manhaj al-basith). Sistematika yang
mengemukakan aspek-aspek penafsiran yang biasanya hanya memberikan kata-kata
sinonim (muradif) dari lafal-lafal ayat yang sukar serta sedikit penjelasan
ringkas. Sistematika ini bisa dijumpai pada penafsiran Nabi dan para Sahabatnya
yang hanya memberikan keterangan tentang kata ayat-ayat yang sukar saja.
2. Sistematika Sedang (al-manhaj al-wasith). Sistematika yang dalam
menjelaskan ayat-ayat Al-Qur’an menggunakan dua atau tiga nuzul ayat dan
sedikit tafsiran kalimat-kalimatnya. Sistemaka ini digunakan para sahabat dan
tabi’in, yang mulai menambahkan sedikit keterangan yang disisipkan
ditengah-tengah ayat Al-Qur’an
3. Sistematika Lengkap (al-manhaj mabsuth). Sistematika ini
menyangkut penafsiran ayat; mulai dari mufradat, i’rab, dan bacaannya relevansi
(Almunasabah) ayat, makna ringkasnya dan pengistimbathan hukum-hukum yang
dikandungnya serta hikmah dari diisyaratkannya hukum-hukum tersebut.
Sistematika ini digunakan oleh para tabi’in dan ulama-ulama mutaqaddimin pada
umumnya.1
Implementasi; disini sudah tidak lagi
berbicara tentang teks, hampir sama dengan penafsiran maka kebenarannyapun
tidak mutlak
3. Bagaimana Pendekatan dan Metodologi Studi Islam.
Pendekatan
dalam bahasa Inggris =>approach adalah suatu disiplin ilmu yng dijadikan
landasan kajian sebuah studi atau penelitian. Pendekatan dalam aplikasinya
lebih mendekati disiplin ilmu karena tujuan utama pendekatan untuk mengetahui
sebuah kajian dan langkah-langkah metodologis yang dipakai dalam pengkajian
atau penelitian.2
2. Khoiriyah,M.Ag, Memahami Metodologi Studi Islam,
Yogayakarta: Teras, 2013, hlm 86
Jika
digambarkan pendekatan dan metode dalam hubungannya dengan Pemahaman Islam sbb:
PENDEKATAN
|
METODE
|
MSI
|
v
Teologif Normatif
v
Antropologi
v
Sosiologi
v
Psikologi
v
Historis
v
Kebudayaan
v
Filosofi
v
dll
|
Pemahaman
Komprehensif
|
Ø
Deskriptif
Ø
Filologi
Ø
Komparatif
Ø
Hermeneutik
Ø
Fenomenologi
Ø
Mistik
Ø
dll
|
1. Pendekatan Teologis-Nomatif
Pendekatan
teologis – normatif dalam pemahaman keagamaan adalah pendekatan yang menekankan
pada bentuk formal atau simbul-simbul keagamaan yang masing-masing bentuk
formal atau simbul-simbul keagamaan tesebut mengklaim dirinya sebagai yang
paling benar, sedangkan pemahaman yang lain dianggap salah. Yang dimaksud
dengan normatif adalah memandang agama dari segi ajarannya yang pokok dan asli
dari Tuhan yang didalamnya belum terdapat penalaran manusia.3 Pendekatan
teologi dalam memahami agama cenderung tertutup, tidak ada dialog, parsial,
saling menyalahkan, saling mengkafirkan, yang pada akhirnya terjadi
pengkotak-kotakan ummat, tidak ada kerja sama dan tidak terlihat adanya
kepedulian.
3.Supiana,
Metodologi Studi Islam, Jakarta:
Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Departemen Agama Republik Indonesia, 2009,
hlm.69-70
Pendekatan
teologis normatif mempunyai kelebihan dan kekurangan. Kelebihannya adalah
melalui Pendekatan teologis normatif, seseorang memiliki sikap militansidalam
beragama, yaitu berpegang teguh kepada yang diyakininyasebagai yang benar tanpa
memandang dan meremehkan agama lainnya.Sedangkan kekurangannya adalah bersifat
eksklusif-dokmatis, tidak mau mengakui agama lain dan sebagainya. Sikap
eksklusifisme teologis dalam memandang perbedaan dan pluralitas agama
sebagaimana tersebut diatas merugikan diri sendiri dan yang lain, karena sikap
semacam ini mempersempit bagi masuknya kebenaran baru yang bisa membuat hidup
lebih lapang dan lebih kaya akan nuansa.
Untuk
itulah ummat Islam seharusnya memahami Islam tidak hanya menggunakan pendekatan
teologis –normatif saja, tetapi juga dengan menggunakan pendekatan-pendekatan
yang lain,seperti pendekatan sosiologi, antropologi, filsafat dan lain
sebagainya. Hal ini mempunyai tujuan agar pemahaman tentang Islam menjadi utuh,
integral, universal dan komprehensif.
2. Pendekatan Antropologis
Antropologis
adalah ilmu tentang manusia dan kebudayaan. Kebudayaan adalah keseluruhan
pengetahuan manusia yang diperoleh sebagai mahkluk sosial yang digunakan untuk
memahami dan menginterpretasikan pengalaman dan lingkungan dan mendasariserta
mendorong tingkah lakunya.4 Antropologi memperhatikan terbentuknya pola-pola
perilaku manusia dalam tatanan nilai yang dianut dalam kehidupan manusia.5
Kebudayaan
mencakup tiga aspek yaitu pemikiran, kelakuan dan hasil kelakuan. Kebudayaan
manusia pada dasarnya adalah serangkaian aturan-aturan atau
kategorisasi-kategorisasi, serta nilai-nilai.Kebudayaan bukan hanya ilmu
pengetahuan saja, tetapi juga hal-hal yang buruk, bahasa, dan lain sebagainya.
Kebudayaan meliputi unsur-unsur sistem sosial, sistem bahasa dan komunikasi,
sistem agama, sistem ekonomi dan teknologi, sistem politik dan hukum.6
4.Parsudi
Suparlan dalam Supiana, Metodologi Studi
Islam, Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Departemen Agama Republik Indonesia, 2009,
hlm.. 74
5.
Mattulada, Studi Islam Kontemporer
(Sintesis Pendekatan Sejarah, Sosiologi dan Antropologi dalam mengkaji Fenomena
keagamaan), dalam Metodologi Penelitian Agama: Sebuah Pengantar, Yogakarta:
Tiara Wacana, 1989, hlm.1
6.Koentjaraningrat
dalam Supiana, Metodologi Studi Islam,
Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Departemen Agama Republik
Indonesia, 2009, hlm.74
3. Pendekatan Sosiologis
Mengkaji
fenomena keagamaan berarti mempelajari perilaku manusia dalam kehidupannya beragama.
Fenomena keagamaan itu sendiri adalah perwujudan sikap dan perilaku manusia
yang menyangkut hal-hal yang dipandang suci, keramat yang beralasan dari
sesuatu kegaiban. Ilmu pengetahuan sosial dengan caranya masing-masing atau
metode, teknik dan peralatannya dapat mengamati dengan cermat perilaku manusia
itu, hingga menemukan segalaunsur yang menjadi komponen terjadinya perilaku
itu.Sosiologi menyoroti dari sudut posisi manusia yang membawanya kepada
perilaku iu.7
Sosiologi
merupakan sebuah kajian ilmu yang berkaitan dengan aspek hubungan sosial
manusia antara satu dengan yang lain atau antara kelompok satu ddengan yang
lain.8 Sosiologi menitikberatkan pada sistem sosial (masyarakat) yang kompleks,
sedangkan antropologi menitikberatkan masyarakat yang erat hubungan kekerabatan
(masyarakat sedderhana). Sosiologi merupakan ilmu sosial yang obyeknya adalah
masyarakat yang bersifat empiris, teoritis dan kumulatif.
4. Pendekatan Historis (Sejarah)
Secaara
bahasa, sejarah mempunyai arti cerita suatu rekontruksi atau juga kumpulan
gejala empiris masa lampau. Menurut materinya (subject matter), sejarah dibagi
menjadi;
Ø
Daerah (Asia, Eropa,
Amerikadll)
Ø
Zaman (Zaman klasik,
modeern, pertengahan dll)
Ø
Tematik (sejarah politik,
sejarah agama, sejarah seni, dll)
Sebuah
studi atau penelitian sejarah, baik yang lalu maupun yang kontemporer sebenarnya kombinasi antara aktor
dan peneliti, sehingga merupakan suatu realitas dari hari lampau yang
utuh.Pendekatan sejarah menitikberatkan pada kronologi pertumbuhan dan perkembangan.
Pendekatan historis menggunakan analisis atas peristiwa-peristiwa masa silam
untuk merumuskan prinsip-prinsip umum. Metode ini dapat dipakai misalnya, dalam
hal pengamalan (kebudayaan ummat Islam).9 Metode ini sebaiknya dikombinasikan
dengan metode komparatif (perbandingan).
7.
Mattulada, Studi Islam Kontemporer
(Sintesis Pendekatan Sejarah, Sosiologi dan Antropologi dalam mengkaji Fenomena
keagamaan), dalam Metodologi Penelitian Agama: Sebuah Pengantar, Yogakarta:
Tiara Wacana, 1989, hlm.1
8. Khoiriyah,
Menggagas Sosiologi Pendidikan Islam,
Yoyakarta:Teras,2012
9.
Soejono dan Abdurrahman, Metode
Penelitian Suatu Pikiran dan Penerapan, Jakarta:Rineka Cipta, 1999, hlm.30
Pendekatan
sejarah merupakan penyelidikan atas suatu masalah dengan mengaplikasikan jalan
pemecahannya dari perspektif historis.10 Lebih khusus penelitian sejarah
merupakan seperangkat aturan dan prinsipsistematis untuk mengumpulkan
sumber-sumber sejarah secara efektif, menilainya secara kritis dan mengajukan
sintesis dari hasil-hasil yang dicapaidalam bentuk teretulis.
Ilmu
sejarah mengamati proses terjadinya perilaku manusia. Sistematisasi
langkah-langkah pendekatan/metode sejarah sbb;11
1.
Pengumpulan obyek yang berasal
dari suatu zaman dan pengumpulan bahan-bahan tertulis dan lisan yang relevan (heuristik)
2.
Menyingkirkan bahan-bahan (atau
bagian-bagian daripadanya) yang tidak otentik (kritik atau verivikasi)
3.
Menyimpulkan kesaksian yang dapat
dipercaya berdasarkan bahan-bahan yang otentik (aufassung atau interprretasi)
4.
Penyusunan kesaksian yang dapat
dipercaya berdasarkan kisah atau penyajian yang berarti.
Jika
hukum dipelajari dengan mempergunakan
pendekatan analisis sejarah, maka orang akan menjadi terbuka terhadap
perubahan dan pembaruan hukum.Orang tidak akan lagi memegang teguh pendirian
bahwa hanya suatu aliran hukum sajalah yang paling benar dan berlaku disemua
tempat dan sepanjang waktu. Dengan menggunakan pendekatan analisis sejarah,
akan terlihat yang universal pada hukum Islam adalah dasar dan tujuannya.
Dasarnya ialah Tauhid,yang tidak ada seorang muslimpun mengingkarinya dan
tujuannya adalah kemaslahatan ummat dalam upaya mencapai kebahagiaan akherat.
Perbedaan suatu aliran dan aliran lain akan membawa maslahat bagi ummat.12
11.Ibit hlm.44
12. Nourouzzaman Shiddiqi,
Sejarah: Pisau Bedah Ilmu Keislaman,
dalam Metodologi Penelitian Agama:
Sebuah Pengantar, Yogyakarta: Tiara Wacana,1989, hlm.86
5. Pendekatan Filosofis
Filsafat dapat dirumuskan
sbb:13
v Filsafat ialah ilmu istimewa yang mencoba menjawab
masalah-masalah yang tidak dapat diawab oleh ilmu pengetahuan biasa, karena
masalah-masalah termaksud itu diluar atau diatas jangkauan ilmu pengetahuan
bias.
v Filsafsat ialah hasil daya upaya manusia dengan akal budinya
untuk memahami (mendalami dan menyelami) secara radikal dari integral serta
sistematik hakikat sarwa-yang ada Yaitu
hakikat Tuhan, hakikat alam semesta dan hakikat manusia, serta sikap manusia
termaksud sebagai konsekuensi dari pemahaman tersebut.
Obyek
filsafat meliputi obyek material dan obyek formal. Obyek material filsafat
dibagi atas 3 persoalan pokok yaitu;
hakekat Tuhan, hakekat alam semesta dan hakekat manusia. Sedangkan obyek formal
filsafat adalah usaha mencari keterangan secara radikal (sedalam-dalamnya,
sampai ke akarnya) tentang obyek material filsafat.14
Dengan
demikian maka filsafat bertujuan untuk memahami alam semesta, maknanya, dan
juga nilainya. Falsafah Islam menjadi bermanfaat dan mampu memberikan problem solving bagi persoalan-persoalan
yang dihadapi oleh masyarakat. Jika tidak demikian maka falsafah Islam harus
puas dengan kajian-kajian klasik yang sering kali tidak bersentuhan dengan
problematika kontemporer.15
Islam bukan agama yang hanya didasarkan pada
intuisi mistik manusia dan terbatas pada hubungan antara manusia dengan Tuhan.
Ini adalah hanya satu dimensi dari agama Islam. Untuk mempelajari ini metode
dan pendekatan filosofis harus dipergunakan karena hubungan manusia dengan
Tuhan dibahas dalam filsafat.
13.Endang
Saifuddin Anshari, Ilmu Filsafat dan Agama,
Surabaya: Bina Ilmu Bekerjasama dengan Lembaga Studi Islam Bandung, 1987,
hlm.85
14.Ibid,
hlm.87-88
15.
M.Amin Abdullah, Falsafah Kalam di Era
Postmodernisme, Yogyakarta: Pustaka Pelajar,1995, hlm. 92
Dalam
penyelidikan tentang agama, jalan baru harus ditempuh. Islam buakn agama yang
monodemensi, maka berbagai metode ilmiah dalam segala cabang ilmu pengetahuan
bisa ditempuh. Berbagai metode tersebut adalah;
1.
Metode Folologi
Kata
filologi berasal dari bahasa yunani Philologia
yang berarti cinta kepada bahasa, karena huruf membentuk kata, kata
membentuk kalimat dan kalimat adalah inti dari bahasa. Filologi dipakai dalam
arti pengkajian teks.1 Metode Filologi merupakan metode penelitian berdasarkan
analisis teks. Istilah filologi berarti metode yang mempelajari dan meneliti
naskah-naskah lama untuk mengerti apa yang terdapat didalamnya sehingga
diketahui latar belakang kebudayaan masyarakat yang melahirkan naskah-naskah
itu.
Metode Filologi
dalam kajian Islam (Islamic Studies) mempunyai keterbatasan yang diantaranya
adalah penekanan yang eksklusifitas terhadap teks atau naskah. Dunia Islam
dipahami melalui cara yang tidak langsung, yaitu tidak dengan melakukan
penelitian tentang kehidupan umat Islam yang ada didalam masyararkatnya, tetapi
melalui prisma teks, yang pada umumnya teks-tesk itu berasal dari tradisi
intelektual klasik milik umat Islam. Kajian ini berfokus pada tulisan-tulisan
umat Islam, bukan pada kehidupan umat Islam itu sendiri.1
2.
Metode Deskriptif
Deskriptif
memiliki arti uraian apa adanya yang berasal dari suatu tempat atau tokoh
sebuah peristiwa. Bisa juga berasal dari seorang tokoh yang menyangkut
pemikirannya. Metode ini digunakan untuk mengangkat pemikiran yang diteliti.
Karena tujuannya inilah maka yang dilakukan hanya menggunakan pemikiran
pengarang dengan cara menjelaskan dan menghubungkan secara cermat data dalam
bentuk-bentuk pernyataan dan rumusan-rumusan pendapat. Selanjutnya jika akan
diperdalam pada implikasi-implikasi logis maupun empirik, maka dilakukan
analisis rasional kosa kata atau sosial empirik.
Penelitian
deskriptif merupakan sebuah metode yang berusaha menggambarkan objek apa adanya
dan sangat berguna untuk permasahan tingkah laku manusia.2
1.
Khoiriyah, Memahami Metodologi Studi Islam, Yoyakarta:Teras,2013, hlm.101
2.
Sukardi, Metodologi Penelitian
Pendidikan Kompetensi dan Prakteknya, Jakarta: Bumi Aksara, 2004, hlm.157 dan
Soejono dan Abdurrahman, Metode Penelitian Suatu Pemikiran dan Penerapan, Jakarta:
Rineka Cipta, 1999, hlm.19
3.
Metode Komparatif
Metode
Komparatif merupakan metode perbandingan antara yang satu dengan yang lain.
Metode ini dimaksudkan menemukan tipe, corak atau kategori suatu pemikiran kemudian memposisikannya dalam peta
pemikiran secara umum. Dalam metode perbandingan yang dillakukan adalah
mengemukakan teori induk yang menggambarkan tipologi atau aliran-aliran
pemikiran dalam berbagai indikatornya. Teori ini kemudian digunakan untuk mendeduksi pemikiran
yang telah direkonstruksi (dibangun kembali)
4.
Metode Hermeneutika
Secara
Etimologis, kata Hermeneutika berasal dari bahasa Yunani hermeneuein
yang berarti menafsirkan. Kata bendanya berarti penafsiran atau interpretasi.3
Richard
E. Palmer mengartikan Hermeneutik sebagai prosses mengubah sesuatu atau situasi
ketidaktahuan menjadi mengerti.4
Pada
dasarnya Hermeneutik berhubungan dengan bahasa. Hermeneutik adalah cara baru
untuk ‘bergaul’ dengan bahasa. Penerapan Hermeneutik cukup luas pada ilmu-ilmu
kemanusiaan, seperti sejarah, agama filsafat, seni sastra dll.Disiplin ilmu
yang pertama yang banyak menggunakan Hermeneutikadalah ilmu tafsirkitab suci.
Sebab semua karya yang mendapatkan inspirasi Illahi Al-qur’an supaya dapat
dimengerti memerlukan interpretasi atau Hermeneutik.
Hermeneutik
biasanya dipandang sebagai suatu sub disiplin teologi yang mencakup kajian
metodologis tentang otentikasi dan penafsiran teks. Teologi selalu dikaitkan
dengan Hermeneutika karena dokma adalah interpretasi kitab suci.
5.
Metode Fenomenologi
Metode
Fenomenologi digunakan untuk mencari hubungan-hubungan pemikiran dengan
kondisi-kondisi sosial yang ada sebelumnya dan sesudah pemikiran itu muncul.
Metode Fenomenologi merupakan metode yang didasari oleh filsafat Fenomenologi,
yaitu mengajarkan pada pentingnya melihat gejala yang tampak dari sebuah
entitas untuk menafsirkan alam pemikiran yang berkembang dalam entitas
tersebut.5
3.
E. Sumaryono, Herneneutik, Sebuah Metode Filsafat, Yogakarta:Penerbit Kanisius,
1999, hlm.23
4.
Richard E. Palmer, Herneneutics, Evanston: Norhwestern
Univ. Press, 1969, hlm.3
5.
Jamali Sahrodi, Metodologi Studi Islam (Menelusuri Jejak
Historis Kajian Islam ala Sarjana Orientalis), Bandung: Pustaka Setia,
2007, hlm.60
Metode
Fenomenologi digunakan dalam kajian Islam, contohnya tentang Pendekatan
Memahami “Ketegangan” Agam (Metode Fenomenologi Edmund Husserl).6
Pengaruh
Husserl atas Filsafat dan metode Fenomenologi sangat besar terutama dalam
membangun obyektifitas pengertian manusia yang benar bukan berarti tanpa
kelemahan. Obyektifitas –unversal telah merupakan kontribusi terbesar darinya.
Namun gagasan ini menjerumuskan pada idealisme transendental. Metode
fenomenologi dalam wacana keislaman harus dikompromikan sehingga hubungan
anatara keduanya dapat diumpamakan seperti pure sciences (fenomenologi) dan
appliend sciences (teologi), sehingga keduanya bisa salig mengisi
6.
Metode Mistik
Aspek
mistik (supranatural) didalam Islam juga dikajidan dipahami, selain aspek
realitas logis empiris. Dalam mengkaji aspek mistik/supranatural ini metode
yang digunakan adalah metode mistikyang berbeda dengan metode sains ilmiah,
bukan kaidah-kaidah ilmiah yang logis, empiris dan rasional. Contohnya adalah
dalam memahami mu’jizat yang diberikan Allah untuk para Nabi dan Rasul.
7.
Metode Holistik
Metode
Holistik merupakan gambaran dari beberapa metode yang dimaksudkan untuk melihat
semua aspek yang terdapat dalam suatu pemikiran. Cara berfikir deduktif
digunakan untuk membuat tipologi, perbandingan digunakan untuk melihat
pengaruh-pengaruh, dan hermeneutika digunakan untuk menemukan hubungan
pemikiran dengan gejala-gejala sosial yang ada, sehingga pemahaman tentang
Islam akan semakin integraldan komprehensif.7
Dengan
metodde holistik (menyeluruh) tentang Islam, maka Islam sebagai ajaran yang
universal dapat dipahami secara utuh dan integral melalui pendekatan dan metode
yang akurat, sesuai dan tepat. Hal ini juga menghindari pemahaman yang parsial
(sepotong-potong), tidak utuh, tidak sistematis, dan tidak universal.
6.
Dalam Lukman S. Thahir, Studi Islam Interdisipliner; Aplikasi
Pendekatan Filsafat, Sosiologi, dan Sejarah, Yogyakarta: Qirtas (Kelompok
Penerbit Qalam), 2004, hlm.57-72
7.
Abuy Sodikin, Metodologi Studi Islam, Bandung: Insan Mandiri, 2002
III. PENUTUP
Akhirnya
sampai pada kesimpulan. Dari Paparan makalah kami tentang “Studi Islam dan
Ruang Lingkupnya” dapat disimpulkan sbb;
Ø
Studi Islam sebagai kajian
Islam memiliki cakupan makna dan pengertian yang luas.
Ø
Ada 3 ranah dalam studi
Islam (ajaran, penafsiran dan implementasi)
Ø
Ada berbagai pendekatan
dalam memahami Islam (teologis-normatif, sosiologis,antropologis,psikologis,
historis kebudayaan, filosofis dll)
Ø
Berbagai ragam metode
(deskriptif, filologi, komparatif, hermeneutik, fenomenologi,dll)
Ø
Dengan mengenal berbagai
pendekatan dan metode Studi Islam diharapkan menjadi seorang yang tidak fanatik
buta, namun berwawasan luas kedepan tanpa harus mengklaim diri paling benar,
namun menjadi manusia yang arif bijaksana dalam menghadapi keberagaman pola
pikir maupun pendapat orang lain maupun masyarakat.
Sebagai
penutup, tiada gading yang tak retak, tentunya makalah ini jauh dari sempurna
maka saran dan kritik demi kebaikan mendatang sangat kami harapkan.
DAFTAR PUSTAKA:
1.(1)
Ngainun Naim, Pengantar Studi Islam,
Yogayakarta:Teras,2009
2. Subhi-as-Salih, Mabahithfi ‘Ulum
al-Qur’an, Beirut: Dar al-Ilm li al-Malayin,1997, dan dalam Tim Penyusun MKD IAIN Sunan Ampel
Surabaya, Studi Al-Qur’an, Surabaya: IAIN Sunan Ampel Press,2011
3. As-Suyuti, al-Itqan Ulum al-Qur’an,
Beirut-Libanon:Dar al-Kutub Al-Ilmiyah, 2004
4. As-Sabuni dalam dalam Tim Penyusun
MKD IAIN Sunan Ampel Surabaya, Studi Al-Qur’an, Surabaya: IAIN Sunan Ampel
Press,2011
5. Khoiriyah,M.Ag, Memahami Metodologi Studi Islam,
Yogayakarta: Teras, 2013,
6.
Supiana, Metodologi Studi Islam,
Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Departemen Agama Republik
Indonesia, 2009
7.
Parsudi Suparlan dalam Supiana, Metodologi
Studi Islam, Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Departemen Agama Republik Indonesia, 2009
8.
Mattulada, Studi Islam Kontemporer
(Sintesis Pendekatan Sejarah, Sosiologi dan Antropologi dalam mengkaji Fenomena
keagamaan), dalam Metodologi Penelitian Agama: Sebuah Pengantar, Yogakarta:
Tiara Wacana, 1989
9. Koentjaraningrat
dalam Supiana, Metodologi Studi Islam,
Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Departemen Agama Republik
Indonesia, 2009
11.
Soejono dan Abdurrahman, Metode
Penelitian Suatu Pikiran dan Penerapan, Jakarta:Rineka Cipta, 1999
12. Nourouzzaman
Shiddiqi, Sejarah: Pisau Bedah Ilmu Keislaman,
dalam Metodologi Penelitian Agama:
Sebuah Pengantar, Yogyakarta: Tiara Wacana,1989
13.Endang
Saifuddin Anshari, Ilmu Filsafat dan Agama,
Surabaya: Bina Ilmu Bekerjasama dengan Lembaga Studi Islam Bandung, 1987
14. M.Amin
Abdullah, Falsafah Kalam di Era
Postmodernisme, Yogyakarta: Pustaka Pelajar,1995
15. E. Sumaryono, Herneneutik,
Sebuah Metode Filsafat, Yogakarta:Penerbit Kanisius, 1999
16. Richard E. Palmer, Herneneutics,
Evanston: Norhwestern Univ. Press, 1969,
17. Jamali
Sahrodi, Metodologi Studi Islam
(Menelusuri Jejak Historis Kajian Islam ala Sarjana Orientalis), Bandung:
Pustaka Setia, 2007
BIODATA
PENYUSUN
Nama lengkap : Dra. Ani Pujilestari
NIM : MP-16041
Jurusan : MPI
Tempat,
Tanggal Lahir: Pati, 30 April 1967
Alamat : Jl. Raya Pati-Tayu
km.20 Purwodadi Margoyoso Pati
Telp / HP : (0295)4150534 /
081325366176
Email : pujieani@gmail.com
Aktifitas : @ Mengajar - mengelola PAUD
@ Tranner PAUD
Prestasi : # Juara I Gambar Seri tingkat Kec. Thn 2000
# Juara Harapan III Gambar Seri tingkat Kab
Thn 2000
# Juara II Dongeng Bahasa Jawa Tingkat Kec.
Thn 2010
# Juara III Guru Berprestasi Tingkat Kec. Thn
2011
# Juara I
Cipta Lagu untuk anak Tingkat Kec. Thn 2014
# Harapan
II Cipta Lagu untuk anak Tingkat Kab. Thn 2014

0 Response to "STUDI ISLAM DAN LINGKUP KAJIANNYA"
Posting Komentar